Novel Tidur Bersama Hujan Bab 6 Bagian 3



Kemudian jiwaku berkelana diwaktu dulu aku bermandikan airmata. Penderitaan yang teramat perih yang datangnya dari seseorang yang memperkenalkan aku tentang banyak warna kehidupan.

Kebelakangan ini sifat Faiz berubah. Acapkali dia menuduhku yang bukan-bukan, hampir setiap kali aku mengangkat telpon darinya pasti ada saja masalah yang dia suarakan jadi apabila mendengar bunyi telpon darinya saja sudah sangat  menggetarkan jiwaku. Makanya sebelum kuangkat telpon darinya, aku pasti berdoa terlebih dulu semoga kali ini dia dalam keadaan yang baik.

Novel Romantis Terbaru


Faiz benar-benar menguji cintaku. Tak henti-hentinya dia berusaha mencari kesalahanku. Layanannya menjatuhkan jiwaku kelembah penderitaan. Apakah yang membuat lelaki yang paling aku sayangi berubah? Terkadang aku sempat berpikir bahwa sikapnya yang selalu mencari kesalahan dan kelemahanku adalah caranya untuk aku bisa pergi dari kehidupannya tapi terkadang aku juga berpikir bahwa ia sedang menguji seberapa besar cintaku kepadanya. Aku berusaha untuk bisa bertahan meskipun dalam keadaan yang tertakan dan dalam ketakutan akan kehilangannya.

Kumelakukan segala hal yang diinginkannya, menangis dibelakang dan dihadapannya, memujuk hatinya dengan kelembutan dan bahkan terkadang aku tidur bersama hujan hanya karena aku ingin berada disisinya. Kulakukan semua itu atas nama cinta, cintaku kepadanya hingga ketempat tersunyi didunia fana ini.

novel terbaruLalu jiwaku kembali berkelana dikala aku terperangkap didalam jurang penderitaan karena kehilangan dirinya. Hatiku berdenyut perih setiap detiknya, sel-sel disekujur tubuhku layu tak bermaya dan udara yang kuhirup tak pernah melegakan dada. Aku betul-betul dalam penderitaan. Merasa diri ini kecil dan tak berguna. Tiba-tiba aku melihat Faiz sedang mendekatiku dan spontan airmata kerinduan bergelimang dikedua kelopak mata lalu bermuara hingga kedagu.

“Miu! Miu! Miu!” Seseorang memanggil namaku dengan volume suara seakan berbisik sejurus kemudian tubuhku bergoyang seperti ada yang menggoyangkannya hingga kedua mata ini terbuka.

Bahia..” Dia sedang berdiri dihadapanku dengan raut wajah seribu tanda tanya.

“Miu, are you okay?” suara musik yang lantang telah mengembalikan semula kesadaranku bahwa diri ini sekarang berada didalam club bersama Bahia dan Danil.

“Tak tahulah Bahia, aku teringatkan Faiz” Kuseka airmataku dengan kedua tangan.

“Jangan kau ingatkan masa lampau itu. Kita datang kesini nak happy happy tau. Jom kita joget.”

“Aku nak balik ajalah. Aku rasa tak sedap badan, kepalaku terasa sedikit sakit.” Tubuhku juga kedinginan dan kepalaku terasa ringan. Aku merasakan sesuatu yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

“Kita akan balik sekejap lagi. I will teach you how to be happy in the clucb.”

“Aku rasa lain macam lah Bahia. Aku rasa tak sedap badan.” Keluhku sambil memegang kepala yang kini terasa ringan.

“Miu!” Panggil Bahia

What?”

“Sebenarnya tadi aku masukkan sesuatu kat minuman kau” Jelasnya.

“Masukkan apa?” Tanyaku masih dengan pikiran kacau yang rasanya sungguh tak nyaman.

“Aku masukkan semacam obat dalam air kau tadi so kalau kau tak mau dance maka kau boleh mati”
“Apa! Mati?” spontan jantungku tersentak mendengar kata mati. Aku langsung terbangun dari ketidakberdayaan yang sedang melandaku kini.

“Iya kau boleh mati.”
“Jadi aku harus buat apa Bahia? Aku tak nak mati, aku tak nak mati,” ucapku dalam keadaan terpanik. Belum pernah kumerasa setakut ini.

“Kalau kau tak berjoget kau boleh mati tau.”

“benarkah?” Masih dilanda panik dan takut.

“iya iya kalau kau tak dance kau boleh mati tau!”

“Kalau macam itu jom lah kita berjoget sekarang.”

Bahia segera memimpin tanganku lalu kami membaur bersama keramaian yang sedang menikmati lagu I’m into you oleh Jennifer Lopez. Aku sudah mulai asyik menari. Aku sungguh bahagia, ditempat ini aku merasa bebas seperti seeokor burung yang terbang bebas diudara lepas.

Tarianku melukiskan kebebesan hidup, lepas dari segala pikiran-pikiran tak penting yang selama ini bersarang dibenakku. Lelaki asing itu kembali tersenyum dan kali ini kubalas senyumannya dengan lebih tulus serta kuluangkan sedikit waktu untuk memperhatikan keadaan fisiknya.

Penampilan yang menarik akan memberi kesan yang positif dan itu sudah lumrah kehidupan, pikirku. Dia dua jengkal lebih tinggi dariku, potongan rambutnya cepak seperti seorang askar, alisnya hitam tebal berbentuk bulan sabit, hidungnya kecil tapi mancung. Bibirnya yang paling aku suka, bentuknya mungil dan warnanya merah menyala semerah delima. Aku tak pernah melihat bibir yang semenawan itu, ucapku didalam hati.

Dia sedang memandangku tapi pandangannya tak mampu mengganggu tarianku bahkan diri ini merasa tertantang dan lebih bersemangat. Aku merasa seolah-olah sedang menari di atas panggung dihadapan ribuan penonton.

Kuusahakan untuk memandang wajahnya tanpa sepengetahuannya dan dia tersenyum lebar. Ternyata senyumannya sungguh memikat sehingga membuatku merasa lebih nyaman menari dihadapannya. Kembali aku menutup mata agar musik itu bisa merasuk kejiwaku dan aku lebih bisa menjiwai setiap rentakkannya. Meskipun tubuh ini bermandikan keringat namun aku masih tetap ingin menari.

Gerakkanku kian lincah dan cepat mengikuti irama lagu Adele, Someone like you. Mataku masih tertutup dan kubuka kembali ketika lagu itu berakhir. Ternyata lelaki yang wajahnya mirip Samuel rizal artis idolaku sudah tidak kulihat lagi.

Sekarang lagunya Katty pery, Fire work sedang berdendang di dalam ruangan yang memberikan kebebasan kepada manusia termasuk diriku. Kuingin membebaskan segala rasa yang menyakitkan dihati ini, segala siksaan yang mendera batinku. Tarianku melambangkan kebangkitan, sangat sesuai dengan pesan lagunya yakni bangkit dari ketidakberdayaan. Ketika lagu itu sudah merasuki rohku tiba-tiba musik terhenti dan suasana yang tadinya remang-remang kini terang bercahaya sehingga aku bisa melihat dengan jelas semua orang yang ada.

Aku mendengar suara keributan, jaraknya hanya beberapa meter dari tempat aku berdiri. Mataku liar mencari Bahia dan Danil namun kugagal menemukan mereka. Justeru aku menyaksikan dua lelaki seusiaku sedang beradu mulut dan otot. Aku paling benci dengan apapun jenis perkelahian karena ia bisa membuat hatiku resah tak menentu. Kebisingan yang kian menguat, perkelahian yang tadinya antara dua lelaki kini bertambah dua orang hingga suasananya seriuh dipasar ikan.


Kujelajahi setiap ruang di lantai dasar untuk menemukan Danil dan Bahia tapi masih sia-sia. Mungkin mereka ada di lantai dua, pikirku. Aku langsung menuju ke arah tangga dengan hati yang gelisah disebabkan oleh suasana bising di lantai satu. Ada dua buah kursi dan meja yang sedang ditempati oleh dua pasangan yang tidak kukenal dan di sebelah kanan mereka adalah pintu masuk ruang merokok. Dinding dan pintunya terbuat dari kaca jadi aku bisa melihat isi di dalam ruang tersebut. Dalam pandanganku ada empat wanita dalam usia kira-kira 40-an sedang berbicara sambil menghisap rokok. Penampilan mereka kelihatan norak sangat tidak mencerminkan usia mereka yang sesungguhnya.

Aku masih memperhatikan mereka hingga salah satu dari wanita-wanita itu berpindah tempat. Ketika itulah aku melihat sebagian tubuh lelaki yang kupikir dia adalah Danil karena jam tangan ditangannya yang membuat aku berpikir demikian. Wajahnya tertutup semua oleh perempuan berambut merah kecoklatan yang sedang dipangku oleh lelaki yang kupikir Danil. Aku masih melihat mereka tapi dari sudut arah kanan agar aku bisa melihat wajah lelaki itu dengan sempurna. Ternyata dia memang Danil. Spontan hatiku berdenyut perih, seperti ada sesuatu yang menghalangi pernafasanku dan darahku bagaikan mendidih kepanasan. Dalam hati ingin sekali aku memarahinya atas apa yang tengah ia lakukan sekarang ini. Kutahan emosiku dan mencoba untuk bersabar. Dalam kesabaran itu aku pun berpikir. Mengapa aku bisa marah ketika melihat Danil bersama perempuan lain? inikah yang dinamakan cemburu? Dan aku cemburu karena aku menaruh harapan untuk bisa bersamanya? Oh tidak, aku tak boleh jatuh cinta kepadanya.

Aku marah saat melihatnya bersama perempuan lain bukan karena aku cemburu, bukan karena aku suka dengannya tapi karena aku tak mau …. Ah sudahlah lupakan masalah Danil. Aku tak mau menganggu kebahagiannya bersama perempuan-perempuan tua yang tak sadarkan diri itu.

Kakiku kembali berayun menjauhi Danil dengan perempuan-perempuannya. Arah gerakkanku menuju tangga ke lantai satu dan ketika menapaki satu demi satu anak-anak tangga tiba-tiba musik yang tadinya sempat terhenti selama kira-kira 15 menit kini menggaung kembali. Karena seleraku untuk menari sudah tergantikan oleh rasa marah dan benci terhadap Danil maka kulanjutkan pencarian ini untuk menemukan Bahia.

Belum jauh dari tangga, aku sudah menemukan Bahia bersama dua lelaki yang usianya jauh lebih muda darinya. Bahia dipeluk oleh lelaki-lelaki itu, wajahnya seperti orang setengah sadar. Kupikir dia sedang mabuk berat. Akhirnya kuurung niatku untuk mendekatinya. Aku kembali menaiki anak-anak tangga menuju lantai dua. Mungkin aku memang harus sendirian dan kutemukan sofa kosong yang tak jauh dari toilet. Sekelilingku agak sepi dan gelap jadi sangat jarang melihat orang yang lalu-lalang. Aku pun duduk di sofa paling ujung di sebelah kanan.


Pikiranku kembali dirasuki oleh banyangan-banyangannya Faiz dan kucoba untuk menghalangnya dengan memikirkan Danil dan Bahia namun ketika aku tak bisa, banyangan Faiz kembali menjelma. Bagian masa lalu yang paling tidak ingin kuingat tapi justeru sulit untuk kulupakan dan akhirnya aku terpaksa berlayar ke masa itu. Ketika pikiran ini sudah mulai meng-angkasa tiba-tiba kudengar suara lelaki dari arah kanan.

“Tak berjoget lagi ke?” Suara yang mengejutkan hingga aku tersadar. Kumemalingkan wajahku ke kanan. Dia semakin mendekatiku sehingga aku bisa melihat jelas wajahnya. Ternyata dia adalah lelaki yang tadi menari bersamaku. Tubuhnya yang gagah dan tegap dibalut dengan kemeja biru dan bercelana jean hitam.

“Buat apa awak duduk seorang diri di sini? Tak nak menari lagi?” Aku masih segan berbicara dengannya tapi kucoba agar rasa segan yang sedang melandaku tidak kelihatan.

“Mungkin nanti tapi untuk sekarang saya ingin berehat sekejap,” Balasku.

“Saya suka tengok awak menari tadi,” pujinya sambil tersenyum dan aku pun menyenyuminya kembali.

“Awak minum ini?” Sambil menyuguhkanku segelas minuman yang ada ditangannya. Civas dicampur dengan coca cola, terangnya.

No, thanks,” sembari menggelengkan kepalaku.

“Boleh saya duduk pat sini?” Tanyanya dengan begitu sopan. Spontan darahku mengalir semakin deras dan denyut jantungku tiba-tiba memperlaju denyutannya.

Alhasil tubuhku mengeluarkan keringat dingin. Aku tak biasa dengan suasana gelap bersama lelaki asing. Aku sedikit takut tapi karena suaranya yang lembut dan gaya biacarnya yang sopan membuat diri ini tetap ingin duduk.

“Silakan,” Dengan nada suara yang kuusahakan kedengarannya berani. Jujur aku masih sedikit risih dengannya karena memang aku lagi butuh sendiri.

“Awak datang kesini sorang-sorang atau dengan kawan?” Kembali dia bertanya dengan bahasa melayunya yang memikat. Kalau bukan karena suaranya yang lembut dalam memainkan kata-kata maka sudah sedari tadi aku pergi.

“Saya datang kesini dengan dua kawan saya.” Aku sudah mulai berani menatap wajahnya yang hanya berjarak kira-kira 50cm dari wajahku.

“Oh ingatkan sorang.  Kawan-kawan awak sekarang ada di mana?”

“Mereka sibuk dengan hal mereka masing-masing.”

“Sebab itu awak sendiri pat sini?” Wajahnya sungguh bersahabat sehingga hati ini merasa nyaman saat memandangnya.

“Ya.” Suasana di sekeliling kini terasa hangat dan nyaman. Setiap kata yang dihembuskan olehnya bagaikan angin sepoi-sepoi yang kelembutannya mampu menyegarkan setiap sel-sel yang membentuk ragaku.

Satu jam berlalu terasa sekejap dan kini pukul 3:30 pagi, setengah jam lagi Zirca akan tutup. Suara handphoneku kini berdering didalam saku Cardigan ungu yang kukenakan. Nama Bahia sedang muncul dilayar Handpone. Danil dan Bahia sedang menungguku di locker.

“Saya harus pergi sekarang.” Rasanya berat meninggalkannya kecuali dia menanyakan namaku terlebih dulu. Sebagai perempuan tak mungkin aku dulu yang bertanya. Aku sudah berdiri dan sedang bersiap-siap untuk meninggalkannya.

“Tidak apa-apa. Jumpa awak lain waktu ya,” Dengan cepat dia meneguk habis minumannya. Suatu tindakan untuk mengumpulkan keberanian, pikirku. Aku sudah mengayunkan langkah pertama dan sedang membelakangi dirinya.

Ketika beberapa langkah meninggalkan sofa yang tadi kutempati tiba-tiba langkah ini dihentikan oleh suara teriakan dari arah belakang.

“Nama awak siapa?” Dia bertanya dari jarak kurang lebih 3 meter dengan suara yang berteriak memandang harus melawan kuatnya suara musik serta jarak kami yang tak sedekat tadi.

“Miu dan awak?” Giliranku yang berteriak Taqim. Handphone number?” Masih berteriak dan disertai dengan bahasa tubuh. Aku langsung mengerti maksudnya ketika dia meletakkan kedua jarinya ditelinga.

“91404890,” jawabku masih dengan berteriak dan juga disertai dengan bahasa tangan.

Ketika menuruni anak tangga menuju ke area locker, handphone ku menjerit tiga kali pertanda ada pesan sms yang masuk. I Love your Dancing. Aku tersenyum bahagia membaca sms darinya dan senyuman itu masih menghiasi bibir-bibir ini hingga aku menemukan Danil dan Bahia. Memandangku dengan seribu tanda tanya.

Bersambung,
Silakan kembali ke daftar isi novel Tidur Bersama Hujan untuk membaca bab yang belum kamu baca.