Novel Tidur Bersama Hujan Bab 7 Bagian 01

Hujan turun begitu lebat di saat aku berdiri di depan rumah flat Kak Eli di lantai 4. Dia sedang duduk di kursi rotan dan lamunannya terhenti ketika menyadari akan hadirnya aku. Jam di handphone menunjukkan pukul 12 malam. Kami memang sudah berjanji melalui pesan singkat. Ada sesuatu yang hendak aku bicarakan kepadanya  tentang tempat aku berteduh.

Novel Terbaru

“Miu sudah makan?” dengan ekspresi wajahnya yang sudah bisa aku tebak, jelas ada kebimbangan pada diirnya.


“Belum,” sambil aku tersenyum kecil. Kak Eli segera masuk ke dalam rumah lalu kembali dengan membawa sepiring nasi dan segelas air putih. 


 “Kak, sebenarnya Miu tak punya tempat untuk ber...” kak Eli segera menyalip ucapanku.


“Kakak sudah lama mengetahuinya, tapi selama ini kakak pura-pura tidak tahu. Sebagai seorang kakak, kakak rasa malu sebab tidak bisa menolong. Kakak sudah banyak kali berbincang hal ini dengan Bang Rahim, tapi kami pasti bertengkar besar. Kakak sendiri tak tahu harus berbuat apa lagi,” sudah lama aku tidak melihat air mata Kak Eli dan malam ini air matanya bergulir karena ku.


“Kakak tidak perlu rasa bersalah sebab Miu boleh memahaminya.”


“Barusan kakak bertengkar lagi dengan Bang Rahim. Katanya, kalau Miu tinggal di sini dia yang akan pergi.”


“Mulai sekarang kakak tak perlu lagi memujuknya. Memang selama ini Miu boleh tidur di playground tapi mengingat sekarang musim hujan, Miu tak sanggup lagi tidur di sana.”


“Jadi, Miu nak tidur di mana?”


“Kalau diizinkan, Miu bisa tidur di depan rumah. Di kursi rotan ini juga boleh,” Kak Eli diam sejenak sambil bola mata bergerak menyelusuri setiap sudut di depan rumahnya. Kemudian, pandangannya terpaku pada tiang-tiang jemuran yang bediri tepat di hadapan kami. Tanpa berkata apa-apa, dia masuk ke dalam rumah dan sejurus kemudian datang kembali sambil membawa selimut, kasur untuk bayi dan sebuah bantal mini.


“Kakak ada ide! Bagaimana tiang jemuran ini kita buat semacam tenda dengan menggunakan selimut,” tiang-tiang jemuran yang tingginya separas bahuku itu berfungsi sebagai tiang penyangganya, lalu Kak Eli mulai menutupnya dengan selimut. Beralaskan kasur bayi yang ukurannya separuh tubuhku. Alhasil, jadilah sebuah tenda sederhana yang boleh aku anggap sebagai istanaku buat sementara.


“Setidaknya di sini jauh lebih nyaman dan Miu tak perlu pindah ketika hujan turun pada waktu malam,” ingin rasanya diri ini menangis kegirangan merayakan keberhasilanku mendapat tempat berteduh yang jauh lebih baik dibandingkan yang sebelumnya. Aku tidak perlu lagi memikirkan perihal hujan pada waktu malam dan di dalam tenda ini terasa jauh lebih selamat.


“Hanya ini yang dapat kakak lakukan. Maafkan ka...” kali ini giliranku menyalip ucapannya.


“Ini sudah lebih daripada cukup bagi Miu. Miu betul-betul bersyukur. Kakak sudah melakukan yang terbaik untuk Miu. Tapi ada satu hal yang masih mengganggu pikiran Miu. Bagaimana kalau Bang Rahim tidak menyetujuinya?” 


“Tentang itu, Miu tak usah risau. Bang Rahim berangkat kerja pukul 6 pagi, jadi sebelum Bang Rahim keluar dari rumah, Miu segera tinggalkan tenda ini. Bila Miu dah nampak Bang Rahim pergi bekerja, Miu boleh naik ke atas semula lalu masuk ke dalam kamar. Tapi ingat, jangan keluar kamar dulu sampai penyewa kamar di rumah kakak pergi kerja pukul 8!” 


Kak Eli segera masuk ke dalam rumah dengan raut wajah yang jauh terlihat lebih ceria daripada yang pertama kali kulihat.


Aku segera masuk ke dalam istana baruku. Malam ini aku tak akan tidur bersama hujan. Di dalamnya, kedamaian hatiku memujuk pikiran untuk mengangkasa. Malam ini bayangan Danil lebih terang daripada bayangan Faiz. Wajah putih itu mengganggu mataku yang seharusnya bisa tidur lebih awal. Kemarahannya begitu membekas dan sedikit demi sedikit melukai hati ini. Untuk yang pertama kalinya aku tersiksa olehnya.


Andai saja kau tahu

Aku sedang menerka ada siapa di hatiku

Aku merasakan seseorang sedang merangkai taman bunga di sana.

Mungkin dia yang dahulunya pernah

merangkainya namun

Ku tak sepenuhnya yakin atau

dia yang baru saja wujud dalam kehidupanku

entahlah aku juga belum sepenuhnya pasti

Mungkin dia ialah lelaki yang ada

dalam sadarku mustahil untuk merangkainya

namun yang pasti

Dia teristimewa daripada yang teristimewa.


Alarm di handphone membangunkan tidurku pada pukul 5.40 pagi. Kuusahakan untuk membuka mataku yang masih terasa berat. Segala peralatan tidur aku sembunyikan di bawah kursi rotan untuk menyembunyikan dari pandangan suami Kak Eli. Dalam kondisi kantuk berat aku turun ke bawah dengan menggunakan tangga. Kaki-kaki ini terus melangkah menuju multi-purpose hall, ruang tak berdinding yang biasanya digunakan untuk mengadakan pesta pernikahan oleh warga Melayu setempat.


Aku terus bergerak menghampiri study corner, namun pandanganku masih belum menemukan tempat yang nyaman sehingga aku terus mencarinya lalu menuju ke playground tempat yang biasa kujadikan untuk berteduh. Namun kondisinya basah kerana hujan turun begitu lebat tadi malam dan sekarang pun masih gerimis. Akhirnya, langkahku berlabuh di kedai kopi, markas persembunyianku selama ini dari angin Subuh yang membekukan sel-sel tubuh.


Rasa kantuk berat begitu menyiksa. Aku butuh secangkir kopi susu panas sebagai penyengar. Aku membeli secangkir kopi panas seharga 80 cent Singapura. Uap putih yang keluar dari  kopi panas itu perlahan-lahan menghangatkan tubuhku dan juga saraf-saraf mataku. Uap kopi itu semakin kuat sehingga membangkitkan saraf-saraf diotakku untuk bisa membuat rencana dihari ini. 


Aku harus mencari pekerjaan untuk bisa bertahan hidup namun naluriku menyuruhku untuk berbisnis. Ide yang menggerakkan jiwaku untuk bertemu Bahia sore ini di Orchard, area berbelanja termewah di Singapura.


Seperti biasa aku yang menunggu kedatangan Bahia. Aku berdiri di samping jam dinding raksasa yang mirip seperti Big Ben di London. Di depanku adalah sebuah Mall yang tidak pernah sepi dari pengunjung. Bola-bola mataku tak berhenti bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti arus gerakkan manusia yang saling berlawanan. Berbagai jenis warna kulit manusia dapatku temukan di Orchard. Semua ras di dunia seakan berkumpul di area yang tampak begitu mewah dan aku bagai melihat seluruh isi dunia.


Langit di Singapura selalu kelihatan biru, bebas dari awan. Meskipun sekarang waktunya sang surya terbenam, namun mustahil untuk menyaksikannya. Pemandangan syurga itu tertutup oleh gedung-gedung pencakar langit yang sedang memancarkan cahaya lampu khas mereka. Suasananya ramai dengan manusia yang sedang memburu barang-barang mewah seperti Louis Vuitton, Prada, Gucci dan Channel dan barang mewah lainnya.


Di antara hiruk pikuk manusia yang bernuansakan modernisasi, tanpa sengaja aku menemukan penjual eskrim yang sedang sibuk melayan pembeli. Berjarak sekitar 30 meter dariku dan posisinya bersebelahan dengan McDonald. Spontan naluri bisnisku bangkit! Aku ingin berbisnis di Orchard meskipun aku tau itu ilegal karena sebagai seorang pelajar asing di Singapura tidak diperbolehkan untuk berbinis, tetapi aku harus mencari jalan untuk meminimalisir risikonya. Rasanya Bahia mampu melakukannya.

Silakan kunjungi daftar novel Tidur Bersama Hujan.

Bersambung